Walau disebabkan faktor hormon, pengobatan osteoporosis tidak bisa dilakukan dengan menyuntikkan hormon.
"Kalau disuntikkan hormon, bisa menimbulkan efek samping pada bagian tubuh yang lain, seperti payudara atau gula darah," kata Dr dr Ketut Siki Kawiyana, SpB Sp OT (K), guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
"Kalau disuntikkan hormon, bisa menimbulkan efek samping pada bagian tubuh yang lain, seperti payudara atau gula darah," kata Dr dr Ketut Siki Kawiyana, SpB Sp OT (K), guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
Menghadapi pengeroposan tulang, lanjut Siki, yang terbaik adalah menundanya, dengan lebih banyak mengkonsumsi kalsium dan memperbaiki pola hidup. Mengapa orang generasi sebelumnya memiliki tulang yang kokoh, katanya, karena pola hidupnya yang baik dan hampir setiap saat mereka berolahraga.
"Orang-orang terdahulu, untuk urusan perjalanannya lebih banyak memilih berjalan kaki. Tapi sekarang, turun naik mobil dan sepeda motor. Ini kurang sehat," katanya.
Sementara itu Dr dr Tuti Kuswardani SpPD (KGer) mengatakan, dari hasil penelitiannya di Bali dan SUrabaya, sekitar 25 persen dari populasi penduduk mengalami osteoporosis di usia lanjut. Sebenarnya lanjut Tuti, Osteoprosis bisa ditunda dengan mengkonsumsi kalsium yang cukup.
"Ikan gerang yang kecil dimakan bersama tulangnya, serta banyak berjemur di matahari untuk mendapatkan vitamin D, juga bisa membantu penguatan tulang," katanya.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar